Rabu, 08 Mei 2013

[HOROR]: Kampung Inggris di Pare

Halo guys sekedar sharing aja, ini sebenarnya pengalaman aku kira-kira 7 bulan yang lalu. Sekolahku kebetulan mengadakan study tour dengan tujuan Kampung Inggris di Pare, Jawa Timur. Study tour ini sebenarnya diisi dengan kursus bahasa inggris yang cukup padat. Bahkan setelah sampai di penginapan sehabis kursus pun kami tetap harus berbicara bahasa inggris, kalau tidak, ya kena hukuman. Kami berada di sana selama 6 hari 5 malam. Awalnya aku merengek-rengek dulu sama mamaku agar diizinkan mengikuti study tour ini. Setelah beberapa hari, akhirnya aku diizinkan juga. Sungguh luar biasa senangnya. Tapi tidak setelah sampai di sana. Aku mengalami beberapa hal tak tertuga, dan menyeramkan yang pasti. Tapi kalau untuk kualitas kursusnya boleh dibilang lumayan bagus lah.

Hari sabtu pun tiba, dijadwal tertulis kami semua harus tiba di bandara pukul 05.00 WITA. Karena mama orang yang sangat on time, pukul 04.15  kami sudah berangkat ke bandara. Dan tiba di sana pukul 04.50. Tapi yang mengecewakan, tidak ada satu orang pun teman atau guruku di sana. Dan aku harus menunggu mereka semua selama kurang lebih 40 menit. Pukul setengah enam lewat, mereka semua baru terkumpul. Akhirnya kurang lebih pukul 06.00 lewat pesawatku cloter pertama berangkat. Sampai di Surabaya kira-kira pukul 07.30 dan kami dari cloter pertama harus menunggu pesawat cloter kedua untuk menaiki bus. Sekitar pukul 09.30 akhirnya kami berangkat. Kami tidak langsung menuju Pare, tetapi akan berwisata sebentar ke Taman Safari Malang. Pukul 19.00 WIB kami baru menuju Pare. Dan tiba di Pare kira-kira pukul 22.00. Setelah sampai, bukannya disuruh istirahat kami malah dibriefing dulu selama 30 menit untuk pembagian kamar. Dan ternyata, kamar kami semua sudah diatur siapa-siapa saja penghuninya dan tidak boleh milih teman sendiri. Yah, ini adalah awal dari hal yang menyeramkan. Yang pastinya canggung sekali kalau sekamar sama orang yang tidak kita kenal akrab, walaupun masih satu sekolah.

Setelah bebenah, aku siap-siap untuk tidur, tapi sampai pukul 2 malam, aku masih tidak bisa tidur, sampai akhirnya aku mendengar papan diketuk berulang kali dan aku mendengar ada orang yang memanggil namaku. Aku pun memaksakan diri untuk tidur karena takut sekali. Sambil berzikir (beneran, lho) akhirnya aku tertidur.

Besoknya, kami harus bangun pukul 05.00 untuk sholat subuh berjamaah. Kemudian jadwal kursus ditempel di depan rumah. Untuk kelasku, kelas Fast dimulai pada pukul 08.30 pagi, jadi aku bisa bermalas-malasan lagi, beruntung aku sekelas dengan 2 temanku, Frieda dan Agel yang akrab sekali sehingga aku tidur lagi sebentar di kamar mereka.

Kemudian pukul 08.30, aku menuju Mahesa Institue. Tempat kursusnya dekat saja, so aku dan teman-teman menyewa sepeda seharga Rp 50.000 untuk dipakai satu minggu full. Selesai kursus pukul 12.00, kemudian dilanjutkan lagi pukul 15.00 dan berakhir pukul 18.00, pada malamnya, pukul 19.00 kami harus berkumpul lagi di ruang tengah sampai pukul 20.30 untuk les tambahan, rata-rata teman-temanku sudah pada pakai baju tidur, kayaknya mereka capek sekali seharian belajar, hihihi. Selesai itu, aku, Agel, dan Frieda nyari makan. Makanan di sana sih murah-murah banget. Gak lebih dari Rp 10.000 dan porsinya lumayan banyak.  Habis makan, aku ke kamar Agel sebentar buat ngerumpi, si Frieda sih udah tidur duluan. Sampai jam 22.00 aku merasa ngantuk terus aku ke kamar. Sampai di kamar malah gak bisa tidur, mana aku sendirian di kamar, semua rommateku masih pada ngerumpi di kamar teman masing-masing. Yang bikin aku senang, pukul 23.00 Agel tiba-tiba masuk ke kamarku dan ngajak tidur bareng di kamarnya, kamarnya kosong karena rommatenya pada tidur di kamar geng masing-masing. Wah, malam itu aku tidur nyenyaaak sekali karena nggak canggung sama rommatenya.

Besok malamnya, Agel ngajak aku tidur di kamarnya lagi, pasti saja aku senang. Tapi, setelah agak larut dikit, dan temen-temen yang masih melek tinggal dikit, tiba-tiba dia bilang
 "Nan, aku takut ih, kalau lampunya dimatiin, ada bayangan pocong." Hah. Aku benar-benar kaget luar biasa.
"Masa? Coba matiin dong." jawabku. Plok. Agel matikan lampu kamarnya.
Dan benar, terpampang nyata, bukan remix, original bayangannya. memang sih cuma sampai setengah badan, tapi lekukan tubuh dan pucuk di atas kepalanya itu jelas sekali. Ya... memang seperti pocong pada umumnya. Aku jujur waktu itu gemetaran sekali, Tapi aku maksa aja buat tetap tidur di sana, habis mau tidur di mana lagi? kalau Agel kekamarku gak bakalan muat. Di kamarku saja sudah ada 7 orang. Lalu kami panggil aja Shafira, karena Frieda sudah tidur pulas. Dan di malam kedua ini kami tidur bertiga. Soal bayangan itu yang tau cuma aku dan Agel, habis kalau Shafira dikasih tau, dia pasti takut dan gak mau tidur di sini. Dia itu penakut sekali-__-

Di malam ketiga, habis maghrib, Agel mau ngetes matiin lampunya lagi, dan ajaib, bayangan di ujung tembok itu hilang. "Nan... Sumpah lututku lemes..." katanya. Aku waktu itu sedang tidak konsentrasi makanya aku tidak terlalu takut. Dan pukul 22.00, kami berempat mau tidur, akhirnya Agel ngasih tau Frieda dan Shafira soal bayangannya, Frieda sih biasa aja tapi kayaknya dia takut, hehehe . Tapi Shafira malah heboh dan ngotot gak mau tidur di paling ujung, akhirnya dia tidur di tengah dan aku di paling ujung di sisi tembok seberangnya.

Dan di hari kelima malam ke empat, kursus kami pulang lebih awal,  karena mau mengunjungi tempat replika Paris, Paris Van Java. Dan sialnya, aku lupa bawa kamera jadi nggak bisa foto apa-apa di sana-_-. Karena sudah agak malam, akhirnya kami makan di pedagang kaki lima di lingkungan Paris Van Java. Kira-kira ada 8 orang sama satu orang kakak senior dari penginapan, lupa namanya, hehe. Terus aku lupa siapa yang mulai, ada yang curhat tentang "gangguan" selama berada di penginapan. Dan kakanya bilang 
"Ya memang, de, kakak selama di sana juga pernah digangguin kok. Malah, si kakak yang pakai kacamata di penginapan itu pernah digangguin secara langsung. Dia kan suka main iPad sampai tengah malam tuh di kamar,terus katanya dia iseng main-main kamera, pintu kamarnya gak ditutup waktu dia main, terus di iPadnya ada cewek lagi berdiri rambutnya panjang banget pake baju putih, waktu dia liat lagi, gak ada siapa-siapa karena memang semuanya sudah pada tidur." Wah wah, jujur saja ya, aku sebenarnya mau nangis lo, karena cerita itu kan tempat kejadiannya di penginapan yang aku tempati juga. Sambil nunggu makanan dan duduk lesehan, kami masih cerita.

“Tapi, kalau di mess satunya, itu lebih ngeri lagi lho, masih mendingan mess kita. Kata temen kakak yang tidur di sana, di tangganya itu udah banyak penghuninya, sebentar-sebentar dia liat tuyul lah, kunti lah, pokoknya di sana lebih ngeri. Belum lagi di lantai atasnya, wah banyak banget.” Mess putri memang di bagi menjadi dua, yang aku tempati saat itu orang-orangnya yang seangkatan denganku. Sedangkan yang satunya lagi buat para junior. Sampai kakaknya cerita itu, aku nggak bisa nahan air mata lagi, nangis deh, ya walaupun gak heboh, cuma sesenggukkan dikit.
Setelah itu, dengan naik kereta-keretaan yang super berisik lagi, kami pulang. Keretanya terbuka sehingga bisa bikin kami masuk angin karena suasananya lumayan dingin dan karena memang sudah pukul 20.00. Agel sampai flu dan hidungnya mampet.

Dan malam terakhir ini, kami tidur di kamar Agel lagi, tapi malam itu kami tidur berlima karena ada satu orang lagi yag tidur di sana karena memang itu kamarnya. Kami semua sudah ambil posisi di kasur yang sempit itu, siap-siap mau tidur tapi gak bisa tidur. Semuanya gak mau tidur di ujung, dekat bayangan si pocong. Sampai akhirnya aku yang harus tidur di dekat bayangan itu-____- aku gugup sih, soalnya lampunya belum dimatikan, dan otomatis bayangannya belum muncul tapi aku sudah dekat-dekat sama bayanganya. Nah kemudian, teman kami yang satunya itu akhirnya matiin lampu dan dia langsung baring tarik selimut dan tidur tanpa melihat bayangan itu sedikit pun. Nah giliran aku yang ketar-ketir. Kalau di malam kedua itu bayangannya kira-kira masih beberapa centi di ujung kaki, mala mini bayangannya sudah berada di dekat pinggangku. Aku nggak tau apakah temanku berempat ini menyadari. Tapi, kalau kuperhatikan tiap malam, ya mungkin ini cuma perasaanku saja aku tidak tau, bayangannya itu tiap malam makin bergerak ke kanan. Alias makin dekat sama kepala kalau posisi tidur. Aku sebenarnya gak  tahan dan pengen nyalain lampu, tapi nggak enak sama mereka berempat yang sudah tidur, takut kebangun.

Sampai pukul berapa gitu, aku masih belum tidur, kira-kira ada sejam aku melek sambil dikit-dikit ngintip bayangannya. Aku baca surah-surah pendek saja, jadi rasa takutnya agak sedikit hilang. Nah, aku rasa malam itu sih puncaknya, kebetulan malam itu malam Jumat, bau kemenyan, melati, kamboja, pokoknya semua bau kuburan nusuk masuk ke hindung. Aku kaget karena tiba-tiba temenku yang satunya bangun tiba-tiba dan nyalain lampu. Terus dia nanya
“Eh, nyium bau kemenyan, lah?” “Iya sih… Aku nyium… Bau banget.” Si Agel sama Frieda kebangun, terus aku tanya Agel tentang baunya, terus dia jawab “Gak nyium, aku kan lagi pilek.” Walah, si Agel untung benar gak nyium baunya, pikirku.

            Nggak lama kemudian, Pak Gendut, pemilik kost-kostan atau penginapan atau mess itu tiba-tiba turun dan bilang ke kami kalau baunya disebabkan oleh orang yang tinggal di belakang kost-an itu lagi ritual buat pesugihan. Wah, makin mencekam saja ini. Dan anehnya, waktu aku ke kamar temanku si A malam itu, yang berada tepat di samping kamar Agel yang penuh bau busuk melati, kemenyan dll, bau itu lenyap seketika. Nggak ada sedikit pun. Aku ke ruang tengah juga, baunya juga nggak ada. Aneh… kenapa cuma kamar kami yang bau melati? Kamarku bahkan kamar Shafira juga nggak bau. Sudah hampir jam 12, akhirnya aku tidur karena mabok nyium bau bunga. Lampunya belum dimatikan. Aku baru saja mau tidur, terlelap dikit, sampai aku lihat ada bola hitam besar jatuh dari plafon. Aku jelas langsung mendongak melihat ke arah kakiku. Tapi nggak ada apa-apa. Cuma ada koper-koper yang sudah beres karena paginya kami harus pulang ke Banjarbaru. Aku tidur saja, males mikir-mikir lagi.

            Beberapa hari setelah itu, di jam istirahat aku ngobrol-ngobrol sama Rana yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Pak Gendut, Kami ngobrol tentang yang di Pare tempo hari. Terus dia bilang “Eh, Nan, Pak Gendut aneh deh, masa waktu dia masuk kamar, aku sempat liat di kamarnya itu banyak tirai-tirai bergantungan, terus kalau siang tirai jendelanya juga ditutup jadi gelap banget. Anaknya nggak pernah kelur dari kamar lagi.”
           
Walah. Aku entah kenapa langsung berpikiran Pak Gendut yang pakai pesugihan di malam Jumat itu, dia punya warung makan di depan kost-an, padahal tempatnya jorok tapi laku banget. Aku aja ogah makan di situ, padahal warung itu paling dekat dengan kost-an kami. Aku juga sempat tanya dengan beberapa teman yang kamarnya di atas, katanya mereka nggak nyium apa-apa waktu malam terakhir di sana. Ya sudahlah. Biarkan kami berlima yang merasakan kejadian horrornya. Terima kasih udah mau baca, awas di belakang tuh ;p










Tidak ada komentar:

Posting Komentar