Halo guys sekedar sharing aja,
ini sebenarnya pengalaman aku kira-kira 7 bulan yang lalu. Sekolahku kebetulan
mengadakan study tour dengan tujuan Kampung Inggris di Pare, Jawa Timur.
Study tour ini sebenarnya diisi dengan kursus bahasa inggris yang cukup
padat. Bahkan setelah sampai di penginapan sehabis kursus pun kami tetap harus
berbicara bahasa inggris, kalau tidak, ya kena hukuman. Kami berada di sana
selama 6 hari 5 malam. Awalnya aku merengek-rengek dulu sama mamaku agar
diizinkan mengikuti study tour ini. Setelah beberapa hari, akhirnya aku
diizinkan juga. Sungguh luar biasa senangnya. Tapi tidak setelah sampai di
sana. Aku mengalami beberapa hal tak tertuga, dan menyeramkan yang pasti. Tapi
kalau untuk kualitas kursusnya boleh dibilang lumayan bagus lah.
Hari sabtu pun tiba, dijadwal
tertulis kami semua harus tiba di bandara pukul 05.00 WITA. Karena mama orang
yang sangat on time, pukul 04.15 kami sudah berangkat ke bandara.
Dan tiba di sana pukul 04.50. Tapi yang mengecewakan, tidak ada satu orang pun
teman atau guruku di sana. Dan aku harus menunggu mereka semua selama kurang
lebih 40 menit. Pukul setengah enam lewat, mereka semua baru terkumpul.
Akhirnya kurang lebih pukul 06.00 lewat pesawatku cloter pertama berangkat.
Sampai di Surabaya kira-kira pukul 07.30 dan kami dari cloter pertama harus
menunggu pesawat cloter kedua untuk menaiki bus. Sekitar pukul 09.30 akhirnya
kami berangkat. Kami tidak langsung menuju Pare, tetapi akan berwisata sebentar
ke Taman Safari Malang. Pukul 19.00 WIB kami baru menuju Pare. Dan tiba di Pare
kira-kira pukul 22.00. Setelah sampai, bukannya disuruh istirahat kami malah dibriefing dulu selama 30 menit untuk
pembagian kamar. Dan ternyata, kamar kami semua sudah diatur siapa-siapa saja
penghuninya dan tidak boleh milih teman sendiri. Yah, ini adalah awal dari hal
yang menyeramkan. Yang pastinya canggung sekali kalau sekamar sama orang yang
tidak kita kenal akrab, walaupun masih satu sekolah.
Setelah bebenah, aku siap-siap
untuk tidur, tapi sampai pukul 2 malam, aku masih tidak bisa tidur, sampai
akhirnya aku mendengar papan diketuk berulang kali dan aku mendengar ada orang
yang memanggil namaku. Aku pun memaksakan diri untuk tidur karena takut sekali.
Sambil berzikir (beneran, lho) akhirnya aku tertidur.
Besoknya, kami harus bangun
pukul 05.00 untuk sholat subuh berjamaah. Kemudian jadwal kursus ditempel di
depan rumah. Untuk kelasku, kelas Fast dimulai pada pukul 08.30 pagi,
jadi aku bisa bermalas-malasan lagi, beruntung aku sekelas dengan 2 temanku,
Frieda dan Agel yang akrab sekali sehingga aku tidur lagi sebentar di kamar
mereka.
Kemudian pukul 08.30, aku menuju
Mahesa Institue. Tempat kursusnya dekat saja, so aku dan teman-teman menyewa
sepeda seharga Rp 50.000 untuk dipakai satu minggu full. Selesai kursus pukul
12.00, kemudian dilanjutkan lagi pukul 15.00 dan berakhir pukul 18.00, pada
malamnya, pukul 19.00 kami harus berkumpul lagi di ruang tengah sampai pukul
20.30 untuk les tambahan, rata-rata teman-temanku sudah pada pakai baju tidur,
kayaknya mereka capek sekali seharian belajar, hihihi. Selesai itu, aku, Agel,
dan Frieda nyari makan. Makanan di sana sih murah-murah banget. Gak lebih dari
Rp 10.000 dan porsinya lumayan banyak. Habis makan, aku ke kamar Agel
sebentar buat ngerumpi, si Frieda sih udah tidur duluan. Sampai jam 22.00 aku
merasa ngantuk terus aku ke kamar. Sampai di kamar malah gak bisa tidur, mana
aku sendirian di kamar, semua rommateku masih pada ngerumpi di kamar teman
masing-masing. Yang bikin aku senang, pukul 23.00 Agel tiba-tiba masuk ke
kamarku dan ngajak tidur bareng di kamarnya, kamarnya kosong karena rommatenya
pada tidur di kamar geng masing-masing. Wah, malam itu aku tidur nyenyaaak
sekali karena nggak canggung sama rommatenya.
Besok malamnya, Agel ngajak aku
tidur di kamarnya lagi, pasti saja aku senang. Tapi, setelah agak larut dikit,
dan temen-temen yang masih melek tinggal dikit, tiba-tiba dia bilang
"Nan, aku takut ih, kalau lampunya
dimatiin, ada bayangan pocong." Hah. Aku benar-benar kaget luar biasa.
"Masa? Coba matiin
dong." jawabku. Plok. Agel matikan lampu kamarnya.
Dan benar, terpampang nyata,
bukan remix, original bayangannya. memang sih cuma sampai setengah badan, tapi
lekukan tubuh dan pucuk di atas kepalanya itu jelas sekali. Ya... memang
seperti pocong pada umumnya. Aku jujur waktu itu gemetaran sekali, Tapi aku
maksa aja buat tetap tidur di sana, habis mau tidur di mana lagi? kalau Agel
kekamarku gak bakalan muat. Di kamarku saja sudah ada 7 orang. Lalu kami
panggil aja Shafira, karena Frieda sudah tidur pulas. Dan di malam kedua ini
kami tidur bertiga. Soal bayangan itu yang tau cuma aku dan Agel, habis kalau
Shafira dikasih tau, dia pasti takut dan gak mau tidur di sini. Dia itu penakut
sekali-__-
Di malam ketiga, habis maghrib,
Agel mau ngetes matiin lampunya lagi, dan ajaib, bayangan di ujung tembok itu
hilang. "Nan... Sumpah lututku lemes..." katanya. Aku waktu itu
sedang tidak konsentrasi makanya aku tidak terlalu takut. Dan pukul 22.00, kami
berempat mau tidur, akhirnya Agel ngasih tau Frieda dan Shafira soal
bayangannya, Frieda sih biasa aja tapi kayaknya dia takut, hehehe . Tapi
Shafira malah heboh dan ngotot gak mau tidur di paling ujung, akhirnya dia
tidur di tengah dan aku di paling ujung di sisi tembok seberangnya.
Dan di hari kelima malam ke
empat, kursus kami pulang lebih awal, karena mau mengunjungi tempat
replika Paris, Paris Van Java. Dan sialnya, aku lupa bawa kamera jadi nggak
bisa foto apa-apa di sana-_-. Karena sudah agak malam, akhirnya kami makan di
pedagang kaki lima di lingkungan Paris Van Java. Kira-kira ada 8 orang sama
satu orang kakak senior dari penginapan, lupa namanya, hehe. Terus aku lupa
siapa yang mulai, ada yang curhat tentang "gangguan" selama berada di
penginapan. Dan kakanya bilang
"Ya memang, de, kakak
selama di sana juga pernah digangguin kok. Malah, si kakak yang pakai kacamata
di penginapan itu pernah digangguin secara langsung. Dia kan suka main iPad
sampai tengah malam tuh di kamar,terus katanya dia iseng main-main kamera,
pintu kamarnya gak ditutup waktu dia main, terus di iPadnya ada cewek lagi
berdiri rambutnya panjang banget pake baju putih, waktu dia liat lagi, gak ada
siapa-siapa karena memang semuanya sudah pada tidur." Wah wah, jujur saja
ya, aku sebenarnya mau nangis lo, karena cerita itu kan tempat kejadiannya di
penginapan yang aku tempati juga. Sambil nunggu makanan dan duduk lesehan, kami
masih cerita.
“Tapi, kalau di mess satunya,
itu lebih ngeri lagi lho, masih mendingan mess kita. Kata temen kakak yang
tidur di sana, di tangganya itu udah banyak penghuninya, sebentar-sebentar dia
liat tuyul lah, kunti lah, pokoknya di sana lebih ngeri. Belum lagi di lantai
atasnya, wah banyak banget.” Mess putri memang di bagi menjadi dua, yang aku
tempati saat itu orang-orangnya yang seangkatan denganku. Sedangkan yang
satunya lagi buat para junior. Sampai kakaknya cerita itu, aku nggak bisa nahan
air mata lagi, nangis deh, ya walaupun gak heboh, cuma sesenggukkan dikit.
Setelah itu, dengan naik
kereta-keretaan yang super berisik lagi, kami pulang. Keretanya terbuka
sehingga bisa bikin kami masuk angin karena suasananya lumayan dingin dan
karena memang sudah pukul 20.00. Agel sampai flu dan hidungnya mampet.
Dan malam terakhir ini, kami
tidur di kamar Agel lagi, tapi malam itu kami tidur berlima karena ada satu
orang lagi yag tidur di sana karena memang itu kamarnya. Kami semua sudah ambil
posisi di kasur yang sempit itu, siap-siap mau tidur tapi gak bisa tidur.
Semuanya gak mau tidur di ujung, dekat bayangan si pocong. Sampai akhirnya aku
yang harus tidur di dekat bayangan itu-____- aku gugup sih, soalnya lampunya
belum dimatikan, dan otomatis bayangannya belum muncul tapi aku sudah
dekat-dekat sama bayanganya. Nah kemudian, teman kami yang satunya itu akhirnya
matiin lampu dan dia langsung baring tarik selimut dan tidur tanpa melihat
bayangan itu sedikit pun. Nah giliran aku yang ketar-ketir. Kalau di malam
kedua itu bayangannya kira-kira masih beberapa centi di ujung kaki, mala mini
bayangannya sudah berada di dekat pinggangku. Aku nggak tau apakah temanku
berempat ini menyadari. Tapi, kalau kuperhatikan tiap malam, ya mungkin ini
cuma perasaanku saja aku tidak tau, bayangannya itu tiap malam makin bergerak ke
kanan. Alias makin dekat sama kepala kalau posisi tidur. Aku sebenarnya
gak tahan dan pengen nyalain lampu, tapi
nggak enak sama mereka berempat yang sudah tidur, takut kebangun.
Sampai pukul berapa gitu, aku
masih belum tidur, kira-kira ada sejam aku melek sambil dikit-dikit ngintip
bayangannya. Aku baca surah-surah pendek saja, jadi rasa takutnya agak sedikit
hilang. Nah, aku rasa malam itu sih puncaknya, kebetulan malam itu malam Jumat,
bau kemenyan, melati, kamboja, pokoknya semua bau kuburan nusuk masuk ke
hindung. Aku kaget karena tiba-tiba temenku yang satunya bangun tiba-tiba dan
nyalain lampu. Terus dia nanya
“Eh, nyium bau kemenyan, lah?” “Iya sih… Aku nyium… Bau banget.” Si Agel sama Frieda
kebangun, terus aku tanya Agel tentang baunya, terus dia jawab “Gak nyium, aku
kan lagi pilek.” Walah, si Agel untung benar gak nyium baunya, pikirku.
Nggak
lama kemudian, Pak Gendut, pemilik kost-kostan atau penginapan atau mess itu
tiba-tiba turun dan bilang ke kami kalau baunya disebabkan oleh orang yang
tinggal di belakang kost-an itu lagi ritual buat pesugihan. Wah, makin mencekam
saja ini. Dan anehnya, waktu aku ke kamar temanku si A malam itu, yang berada
tepat di samping kamar Agel yang penuh bau busuk melati, kemenyan dll, bau itu
lenyap seketika. Nggak ada sedikit pun. Aku ke ruang tengah juga, baunya juga
nggak ada. Aneh… kenapa cuma kamar kami yang bau melati? Kamarku bahkan kamar
Shafira juga nggak bau. Sudah hampir jam 12, akhirnya aku tidur karena mabok
nyium bau bunga. Lampunya belum dimatikan. Aku baru saja mau tidur, terlelap
dikit, sampai aku lihat ada bola hitam besar jatuh dari plafon. Aku jelas
langsung mendongak melihat ke arah kakiku. Tapi nggak ada apa-apa. Cuma ada
koper-koper yang sudah beres karena paginya kami harus pulang ke Banjarbaru.
Aku tidur saja, males mikir-mikir lagi.
Beberapa
hari setelah itu, di jam istirahat aku ngobrol-ngobrol sama Rana yang kamarnya
bersebelahan dengan kamar Pak Gendut, Kami ngobrol tentang yang di Pare tempo
hari. Terus dia bilang “Eh, Nan, Pak Gendut aneh deh, masa waktu dia masuk
kamar, aku sempat liat di kamarnya itu banyak tirai-tirai bergantungan, terus
kalau siang tirai jendelanya juga ditutup jadi gelap banget. Anaknya nggak
pernah kelur dari kamar lagi.”
Walah. Aku entah kenapa langsung
berpikiran Pak Gendut yang pakai pesugihan di malam Jumat itu, dia punya warung
makan di depan kost-an, padahal tempatnya jorok tapi laku banget. Aku aja ogah
makan di situ, padahal warung itu paling dekat dengan kost-an kami. Aku juga
sempat tanya dengan beberapa teman yang kamarnya di atas, katanya mereka nggak
nyium apa-apa waktu malam terakhir di sana. Ya sudahlah. Biarkan kami berlima
yang merasakan kejadian horrornya. Terima kasih udah mau baca, awas di belakang
tuh ;p